
Gunung Gede, merupakan sebuah Gunung yang berada di Pulau Jawa, Indonesia, Gunung Gede berada dalam ruang lingkup Taman Nasional Gunung Gede Pangrango, yang merupakan salah satu dari lima taman nasional yang pertama kali diumumkan di Indonesia pada tahun 1980.
Gunung ini berada di wilayah tiga kabupaten yaitu Kabupaten Bogor, Cianjur dan Sukabumi, dengan ketinggian 1.000 - 3.000 m. dpl, dan berada pada lintang 106°51' - 107°02' BT dan 64°1' - 65°1 LS. Suhu rata-rata di puncak gunung Gede 18 °C dan di malam hari suhu puncak berkisar 5 °C,
dengan curah hujan rata-rata 3.600 mm/tahun. Gerbang utama menuju gunung ini adalah dari Cibodas dan Cipanas.
Gunung Gede, diselimuti oleh hutan pegunungan yang mencakup zona-zona submontana, montana, hingga ke subalpin di sekitar puncaknya. Hutan pegunungan di kawasan ini merupakan salah satu yang paling kaya jenis flora di Indonesia, bahkan di kawasan Malesia.
Masih ingat, pada saat itu kami masih Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Jurusan Pertanian, kebetulan waktu itu lagi masanya Praktek Kerja Industri (PRAKERIN) yang berlokasi Pasir Taman, Gedeh, Cugenang, Cianjur.
Tepat dibawah kaki Gunung Gede, masih ingat saat bercocok tanam bergaul dengan bibit-bibit tanaman, pupuk, tanah, kotor-kotoran, capek panas bercampur keringat.
Bukan keingingan tapi memang sebuah tuntutan harus seperti itu jika tidak maka tak bisa, jikapun Malas maka tidak akan enak, bisa jadi bahan cerita karena pasti menjadi julukan yaitu siswa yang Pemalas, katanya Siswa Pertanian tapi Alergi dengan kotor. Bukan Siswa Pertanian namanya kalau menolak panas-panasan dan kucuran Air dan keringat.
Tepat dibawah kaki Gunung Gede, masih ingat saat bercocok tanam bergaul dengan bibit-bibit tanaman, pupuk, tanah, kotor-kotoran, capek panas bercampur keringat.
Bukan keingingan tapi memang sebuah tuntutan harus seperti itu jika tidak maka tak bisa, jikapun Malas maka tidak akan enak, bisa jadi bahan cerita karena pasti menjadi julukan yaitu siswa yang Pemalas, katanya Siswa Pertanian tapi Alergi dengan kotor. Bukan Siswa Pertanian namanya kalau menolak panas-panasan dan kucuran Air dan keringat.
Tepatnya dihari Jum'at. Pembimbing menawarkan Tiga Orang Siswa Laki-laki siapa saja yang mau ikut mendaki, sekalian menginap disana “Kami dan teman-teman sepakat siapa saja yang mau ikut mendaki ke Gunung Gede nanti.'' Ternyata ada yang yang mau yaitu Dua dari sekolah SMKN 1 TANGGEUNG termasuk saya dan teman saya dan Satu Orang dari SMKN 1 KARANGTENGAH CIANJUR."
Singkat cerita pada Hari Minggu Pukul 7.00 persiapan, diantar Mobil sampai dibawah Persis kaki Gunung-nya Pukul 8.00 kurang lebih. Pendaki berjumlah 14 Orang, berkumpul dan beristirahat sejenak, sambil Berdo’a dengan harapan agar tetap dapat perlindungan supaya jauh dari hal-hal yang tidak diinginkan.
Mistis iya karena memang Hutan yang sangat Rimba dan Belantara, tak ada penghuni seperti Manusia, yang ada hanya hewan-hewan bukan Makhluk seperti yang ditemui di tempat biasa.
Bapak Ketua selaku Orang yang dianggap bisa, memberitahukan, mengamanatkan supaya jangan sembarang Bicara, jangan pegang Lutut saat berjalan, jangan menanyakan jalan bila bertemu banyak jalur terkeculi berdiskusi dengan teman.
Saat ditanya; ''Bapak sudah pengalaman nanti dirumah jawabannya.''
Singkat cerita pada Hari Minggu Pukul 7.00 persiapan, diantar Mobil sampai dibawah Persis kaki Gunung-nya Pukul 8.00 kurang lebih. Pendaki berjumlah 14 Orang, berkumpul dan beristirahat sejenak, sambil Berdo’a dengan harapan agar tetap dapat perlindungan supaya jauh dari hal-hal yang tidak diinginkan.
Mistis iya karena memang Hutan yang sangat Rimba dan Belantara, tak ada penghuni seperti Manusia, yang ada hanya hewan-hewan bukan Makhluk seperti yang ditemui di tempat biasa.
Bapak Ketua selaku Orang yang dianggap bisa, memberitahukan, mengamanatkan supaya jangan sembarang Bicara, jangan pegang Lutut saat berjalan, jangan menanyakan jalan bila bertemu banyak jalur terkeculi berdiskusi dengan teman.
Saat ditanya; ''Bapak sudah pengalaman nanti dirumah jawabannya.''
Pos Satu sampai Tiga terlewat, sebelum sampai Pos Empat salah satu teman yang kebetulan dibelakang saya memanggil; menjerit kesakitan sambil mengurut-ngurut betisnya. Satu Jam lebih perjalanan terasa letih bukan kepalang, jangankan bagi yang sudah biasa yang sudah seringpun terlihat kelelahan.
Pukul 13.00 kurang lebih 6 jam perjalanan. Rombongan kami mengambil jalan pintas dengan jalan penuh dengan ranting-ranting, daun-daun mengahalangi jalan. Pohon-pohon besar menyelimuti tempat sekitar, meskipun diwaktu siang hawa dingin merasuk menancap kedalam tulang. Keringat mengucur deras menyusuri dari kepala sampai ke kaki.
Bernapas dengan kencang tiada henti, perjuangan ingin sampai ke puncak bukan hal mudah untuk sampai kesana.
Jika tanpa golok pasti kesusahan, tiba di Puncak Alhamdulillah terlihat Gunung-gunung yang sangat indah. Penduduk kota terlihat dengan Rumah-rumah terliahat begitu kecil mampu mengobati rasa dahaga hingga ngos-ngosan terbalaskan.
Bernapas dengan kencang tiada henti, perjuangan ingin sampai ke puncak bukan hal mudah untuk sampai kesana.
Jika tanpa golok pasti kesusahan, tiba di Puncak Alhamdulillah terlihat Gunung-gunung yang sangat indah. Penduduk kota terlihat dengan Rumah-rumah terliahat begitu kecil mampu mengobati rasa dahaga hingga ngos-ngosan terbalaskan.
Setengah Jam berlalu Bapak Kuncen menawarkan; bagi yang mau Shalat ikut saya. Belasan menit kemudian, disana terdapat Makam 'lupa namanya'. Kita Ziarah disana, terdapat sebuah bangunan 'Tua'. Kabarnya bekas peninggalan Orang-orang terdahulu yang Mondok disini, dengan rasa Syukur sampai juga di puncak pertama.
Dikira sudah sampai, ternyata masih ada turunan panjang. Jika dibanding memilih naik tanjakan cape sekalian, daripada turunan yang sangat tajam dan panjang menjadikan lutut kedodoran pengalaman laen dari biasanya, meskipun tidak capek tapi kaki seolah mau rapuh. Hampir saja salah jalan karena disana banyak jalan setapak dengan beberapa jalur membuat kami bertanya-tanya, kemana tujuan.
Sesuai perintah Kuncen memberi tahu jalur mana yang harus di tempuh, yang berada didepan supaya tak salah jalan. hingga akhirnya tenang berjalanlah sesuai perintah.
Gambar 2; Guru Kami Pak Dodi dan Bunga EdelwisSesuai perintah Kuncen memberi tahu jalur mana yang harus di tempuh, yang berada didepan supaya tak salah jalan. hingga akhirnya tenang berjalanlah sesuai perintah.
Tibalah tempat istirahat: Alun-alun yang begitu luas layaknya sebuah Taman persis Lapangan, ternyata banyak yang sudah sampai dan bermalam disana senagnya.
Pemandangan yang sangat langka diketahui Orang-orang, disana terdapat Air yang sangat jernih. Dinginya menyaingi dingin hasil dalam kulkas, banguan kecil yan begitu lama dan Kuno tak kalah kokoh yang terdapat bangunan-bangunan yang berada di Ibukota.
Bunga-bunga Abadi yang jarang ditemukan "Bunga Edelwis.''
Bapak Kuncen memberitahukan, memang disini selalu ada orang, menurut kabar dan pengalamannya. Tempat ini jarang sepi dari pendaki, dan kawasan ini selalu bersih layaknya sebuah taman yang terdapat petugas kebersihan.
Aneh tapi nyata memang sudah banyak yang mengakui dari sekian banyak yang mendaki membuang sampah hasil bawaannya hilang tanpa jejak seolah ada yang membersihkannya.
Pemandangan yang sangat langka diketahui Orang-orang, disana terdapat Air yang sangat jernih. Dinginya menyaingi dingin hasil dalam kulkas, banguan kecil yan begitu lama dan Kuno tak kalah kokoh yang terdapat bangunan-bangunan yang berada di Ibukota.
Bunga-bunga Abadi yang jarang ditemukan "Bunga Edelwis.''
Bapak Kuncen memberitahukan, memang disini selalu ada orang, menurut kabar dan pengalamannya. Tempat ini jarang sepi dari pendaki, dan kawasan ini selalu bersih layaknya sebuah taman yang terdapat petugas kebersihan.
Aneh tapi nyata memang sudah banyak yang mengakui dari sekian banyak yang mendaki membuang sampah hasil bawaannya hilang tanpa jejak seolah ada yang membersihkannya.
Bangunan WC yang sudah lama dibuat, tanaman Edelwis dan tempat-tempat dengan udara yang masih alami, jauh dari polusi, penomena Alam yang begitu luas.
Menurut kabar; bangunan Wc itu belum ada yang mengetahui siapa yang membuatnya.
Suasana yang sangat-sangat dingin, mandipun menjadi heran disiang bolong Mandi saja hampir tidak kuat, mengambil Air Wudhu saja dinginnya bukan sampai ketulang lagi tapi sampai ke Hati seperti rasa Kecewa apapun itu bentuknya masuknya kedalam hati sanubari.
Masih melekat masih teringat jika diingat nyengirnya lama....
Pada waktu pertengahan malam Api ungun masih menyala, semua Orang tidak bisa tidur.
Saking dinginnya, kira-kira hanya 10 menit rasanya memang tidak kuat, memilih Melek daripada tidur karena pasti tidak akan bisa lelap. Api yang menyengat, suasana dinginpun begitu kuat ingin rasanya pulang cepat-cepat..
Namun apalah daya, saat ditanya Jam berapa ; jawabnya pukul satu lebih seperampat.
Saking dinginnya saat itu, salah seorang kawan berdiam diri dekat dengan Api dalam posisi membelakangi, suasana dingin mencekam dalam hutan yang jauh dari keramaian, sarung yang dia pakai ternyata di cium Api, keberuntungan karena cepat ia berlari.
Paktanya ; Minum kopi, makan Mie terasa dingin tak terhindarkan
Jangankan untuk mengambil Air dari selokan tak kena Air pun menggigil tak karuan.
Ibarat seperti makan Sambal, katanya Pedas tapi terus di cocol atau dimakan.
Ingin rasanya kembali kesana menyesal saat itu tidak banyak persiapan.
Semoga di waktu yang akan datang mudah-mudahan..
Kapan-kapan tengoklah kesana.
Menurut kabar; bangunan Wc itu belum ada yang mengetahui siapa yang membuatnya.
Suasana yang sangat-sangat dingin, mandipun menjadi heran disiang bolong Mandi saja hampir tidak kuat, mengambil Air Wudhu saja dinginnya bukan sampai ketulang lagi tapi sampai ke Hati seperti rasa Kecewa apapun itu bentuknya masuknya kedalam hati sanubari.
**********
Masih melekat masih teringat jika diingat nyengirnya lama....
Pada waktu pertengahan malam Api ungun masih menyala, semua Orang tidak bisa tidur.
Saking dinginnya, kira-kira hanya 10 menit rasanya memang tidak kuat, memilih Melek daripada tidur karena pasti tidak akan bisa lelap. Api yang menyengat, suasana dinginpun begitu kuat ingin rasanya pulang cepat-cepat..
Namun apalah daya, saat ditanya Jam berapa ; jawabnya pukul satu lebih seperampat.
Saking dinginnya saat itu, salah seorang kawan berdiam diri dekat dengan Api dalam posisi membelakangi, suasana dingin mencekam dalam hutan yang jauh dari keramaian, sarung yang dia pakai ternyata di cium Api, keberuntungan karena cepat ia berlari.
Paktanya ; Minum kopi, makan Mie terasa dingin tak terhindarkan
Jangankan untuk mengambil Air dari selokan tak kena Air pun menggigil tak karuan.
Ibarat seperti makan Sambal, katanya Pedas tapi terus di cocol atau dimakan.
Ingin rasanya kembali kesana menyesal saat itu tidak banyak persiapan.
Semoga di waktu yang akan datang mudah-mudahan..
Kapan-kapan tengoklah kesana.

Gambar 5; paling kanan depan yang tak sempat berpose digunung Gede sana
Disebelahnya terdapat sebuah Kawah Puncak dan Kawah Gunung Gede.
Panorama berupa pemandangan matahari terbenam terbit, hamparan kota Cianjur-Sukabumi-Bogor terlihat dengan jelas.
Atraksi geologi yang menaik dan pengamatan tumbuhan khas sekitar kawah. Di puncak ini terdapat tiga kawah yang masih aktif dalam satu kompleks yaitu kawah Lanang, Ratu dan Wadon. Berada pada ketinggian 2.958 m. dpl dengan jarak 9,7 km atau 5 jam perjalanan dari Cibodas.
Terima kasih kawan-kawan, sudah mengunjungi halaman ini


